PONED PUSKESMAS CIRIMEKAR

Diposkan oleh puskesmas Cirimekar Minggu, 03 November 2013


Ketersediaan pelayanan kegawat daruratan untuk ibu hamil beserta janinnya sangat menentukan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir.Keberadaan puskesmas mampu PONED menjadi sangat strategis karena banyak resiko pada kasus kebidanan yang tidak dapat segera ditangani.
PONED Puskesmas Cirimekar yang dibangun pada akhir Tahun 2013 dan mulai beroperasi 1 Februari 2014 bertujuan untuk melayani persalinan normal maupun dengan resiko bagi masyarakat wilayah Cibinong dan sekitarnya.

Poned Puskesmas Cirimekar melayani 24 jam, menerima Rujukan dari Bidan Praktek Swasta, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Non Perawatan, Melakukan Rujukan yang tidak dapat ditangani ke RS terdekat dengan fasilitas Ambulance

Masyarakat yang dilayani : Masyarakat umum yang belum mempunyai Jaminan kesehatan, Peserta Jamkesmas/Jamkesda/Jampesehat, TNI/Polri, Peserta BPJS, Asuransi lain

Profil dan Pengertian PONED lebih lengkapnya Klik disini

| edit post
Diposkan oleh puskesmas Cirimekar Rabu, 30 Oktober 2013

JAMPERSAL
  • Adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
  • Merupakan sasaran tambahan dari program Jamkesmas
1. Tujuan
  • Umum
    Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.
  • Khusus
    • Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten
    • Meningkatnya cakupan pelayanan.
      - Bayi baru lahir
      - Keluarga Berencana Pasca Persalinan
      - Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten
    • Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.

2. Regulasi
  1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraaan Praktik Bidan
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 903/Menkes/Per/V/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2562/Menkes/Per/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan
  5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 052/Menkes/SK/II/2012 tentang Penerima Dana Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar untuk Tiap Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012
  6. Keputusan Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.05/I/431/12 tentang Penerima Dana Tahap Pertama Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar untuk Tiap Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012
    * Alokasi dana untuk 497 Kabupaten/Kota se-Indonesia Rp. 450.000.000.000 (Tahap Pertama)
  7. Keputusan Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.05/I/861/12 tentang Penerima Dana Tahap Kedua Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Jaminan Persalinan di Pelayanan Dasar untuk Tiap Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012
    *Alokasi dana untuk 497 Kabupaten/Kota se-Indonesia Rp. 600.000.000.000 (Tahap Kedua)
  8. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK 03.05/1524/2012 tentang Penerima Dana Tahap Ketiga Penyelenggaraan Jamkesmas dan Jampersal di Pelayanan Dasar untuk Tiap Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2012
    *Alokasi dana untuk 497 Kabupaten/Kota se-Indonesia Rp. 53.629.344.000
  9. Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan No. HK 02.03/I/0395/2013 tentang Penerima Dana Tahap Pertama Penyelenggaraan Jamkesmas dan Jampersal di Pelayanan Dasar untuk Tiap Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2013
    *Alokasi dana untuk 497 Kabupaten/Kota se-Indonesia Rp. 467.700.000.000
  10. Surat Edaran No. HK.03.03/X/573/2013 tentang Pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal Tahun 2013
3. Ketentuan Peserta
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas (sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
4. Manfaat JAMPERSAL
Pemeriksaan kehamilan (ANC)
  1.  Waktu pemeriksaan
       a. 1 kali pada triwulan pertama
       b. 1 kali pada triwulan kedua
       c. 2 kali pada triwulan ketiga
  2. Pelayanan pemeriksaan kehamilan
       a. 4 kali pemeriksaan kehamilan
       b. Konseling KB
       c. Penatalaksanaan abortus imminen, abortus inkompletus dan missed abortion
       d. Penatalaksanaan mola hidatidosa
       e. Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum
       f. Penanganan Kehamilan Ektopik Terganggu
       g. Hipertensi dalam kehamilan, pre eklamsi dan eklamsi
       h. Perdarahan pada masa kehamilan
       i. Decompensatio cordis pada kehamilan
       j. Pertumbuhan janin terhambat (PJT): tinggi fundus tidak sesuai usia kehamilan
       k. Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa.
Persalinan
  1.  Waktu persalinan
       a. Persalinan normal: rawat inap minimal 1 (satu) hari
       b. Persalinan per vaginam dengan tindakan: rawat inap minimal 2 (dua) hari
       c. Persalinan dengan penyulit post sectio-caesaria: rawat inap minimal 2 (tiga) hari
  2.  Pelayanan persalinan
       a. Persalinan per vaginam
           · Persalinan per vaginam normal
           · Persalinan per vaginam melalui induksi
           · Persalinan per vaginam dengan tindakan
           · Persalinan per vaginam dengan komplikasi
           · Persalinan per vaginam dengan kondisi bayi kembar
        b. Persalinan per abdominam
            · Seksio sesarea elektif (terencana), atas indikasi medis
            · Seksio sesarea segera (emergensi), atas indikasi medis
            · Seksio sesarea dengan komplikasi (perdarahan, robekan jalan lahir, perlukaan jaringan
               sekitar Rahim, dan sesarea histerektomi)
        c. Komplikasi persalinan
            · Perdarahan
            · Eklamsi
            · Retensio plasenta
            · Penyulit pada persalinan
            · Infeksi
            · Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu besalin
        d. Bayi baru lahir
            · Pelayanan esensial neonates atau bayi baru lahir
            · Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan komplikasi (asfiksia, BBLR, Infeksi, ikterus, kejang,
              RDS)
Pelayanan Nifas (Post Natal Care)
       1. Waktu pelayanan nifas
            a. Kunjungan pertama untuk KF1 dan KN1 (6 jam s/d hari ke-2)
            b. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke-3 s/d hari ke-7)
            c. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 (hari ke-8 s/d hari ke-28)
            d. Kunjungan keempat untuk Kf3 (hari ke-29 s/d hari ke-42)
       2. Pelayanan Nifas
            a. Komplikasi nifas
                ·  Perdarahan
                ·  Sepsis
                ·  Eklamsi
                ·  Asfiksia
                ·  Ikterus
                ·  BBLR
                ·  Kejang
                ·  Abses/Infeksi diakibatkan oleh komplikasi pemasangan alat kontrasepsi
                ·  Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu dan bayi baru lahir sebagai komplikasi
                   persalinan
            b. Keluarga Berencana (KB)
5. Jenis Pelayanan JAMPERSAL
Pelayanan di Tingkat Pertama
  1.  Fasilitas Kesehatan
       a. Puskesmas
       b. Puskesmas PONED dan jaringannya (termasuk Polindes dan Poskesdes)
       c. Fasilitas kesehatan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola
           Kabupaten/Kota.
  2.  Pelayanan persalinan meliputi:
       a. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali;
       b. Deteksi dini faktor risiko, komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir
       c. Pertolongan persalinan normal;
       d. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit pervaginam yang merupakan
           kompetensi Puskesmas PONED.
       e. Pelayanan Nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan KIA dengan
           frekuensi 4 kali;
       f. Pelayanan KB paska persalinan serta komplikasinya.
       g. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan janin/bayinya.
Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan
  1.  Fasilitas Kesehatan
       a. Poliklinik spesialis rumah sakin (rawat jalan)
       b. Perawatan kelas III di rumah sakit pemerintah dan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja
           Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota.
  2.  Pelayanan persalinan meliputi:
       a. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti)
       b. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan
           tingkat pertama.
       c. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat persalinan.
       d. Pemeriksaan paska persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti)
       e. Penatalaksanaan KB paska salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) atau
           kontrasepsi mantap (Kontap) serta penanganan komplikasi.

Sumber : http://www.jamsosindonesia.com/prasjsn/jamkesmas/jampersal

| edit post
Diposkan oleh puskesmas Cirimekar



Prosedur ASKES - Sosial
1. Syarat dan Ketentuan Kepesertaan
1.1. Peserta ASKES Sosial
  • Berdasarkan PP No 69 Tahun 1991 Tentang Pemeliharaan Kesehatan Pegawai Negeri Sipil, Penerima Pensiun, Veteran, Perintis Kemerdekaan, beserta Keluarganya, peserta Askes Sosial adalah:
    1. Pegawai Negeri Sipil
    2. Pejabat Negara
    3. Penerima Pensiun PNS
    4. Penerima Pensiun TNI/Polri
    5. Penerima Pensiun Pejabat Negara
    6. Veteran dan Perintis Kemerdekaan yang membayar iuran untuk jaminan Pemeliharaan kesehatan
  • Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1540/MENKES/SK/XII/2002, tentang Penempatan Tenaga Medis Melalui Masa Bakti Dan Cara Lain), terdapat tambahan peserta Askes Sosial, yaitu:
o    Pegawai Negeri Tidak Tetap Dokter/Dokter Gigi/Bidan
1.2. Penerima Manfaat
  • Peserta
  • Anggota Keluarga terdiri dari:
    1. Isteri atau suami 
    2. anak yang sah dan atau anak angkat  berusia di bawah21 tahun, belum menikah, belum berpenghasilan dan masih menjadi tanggungan peserta atau sampai usia 25 tahun bagi yang masih mengikuti pendidikan formal.
    3. Jumlah anak yang ditanggung adalah dua anak (Keppres No.l6 tahun 1994)
1.3. Hak Peserta
  1. Memperoleh kartu peserta;
  2. Memperoleh penjelasan/informasi tentang hak, kewajiban serta tata cara pelayanan kesehatan;
  3. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan PT Askes (Persero), sesuai dengan hak dan ketentuan yang berlaku; dan
  4. Menyampaikan keluhan baik secara lisan (telepon atau datang langsung) atau tertulis ke Kantor PT Askes (Persero) setempat.
1.4. Kewajiban Peserta
  1. Mengurus kartu peserta dan melaporkan perubahan data peserta;
  2. Menjaga Kartu Askes agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berhak;
  3. Mentaati semua ketentuan dan prosedur pelayanan kesehatan yang berlaku; dan
  4. Membayar iuran sesuai ketentuan pemerintah yang belaku.
2. Kartu ASKES Sosial
Gambar 1. Contoh Kartu Peserta Askes
2.1. Ketentuan
  1. Kartu ASKES adalah Identitas peserta dan anggota keluarganya;
  2. Setiap peserta memiliki 1 (satu) Kartu Peserta dengan nomor unik dan tetap;
  3. Kartu ASKES adalah syarat sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan di PPK (Pemberi Pelayanan Kesehatan) yang ditunjuk;
  4. Kartu ASKES berlaku Nasional; dan
  5. Kartu Peserta berlaku selama peserta masih mempunyai hak
2.1. Prosedur Mendapatkan Kartu ASKES Sosial
  1. Mengisi Daftar Isian Peserta dan melampirkan pas foto terbaru ukuran 3x4 cm,
  2. Asli / fotokopi Surat Keputusan sebagai Pegawai Negeri Sipil/Pensiunan/Petikan Gelar kehormatan Veteran/Perintis Kemerdekaan/Pegawai Tidak Tetap.
  3. Fotokopi Daftar Gaji terakhir yang dilegalisir bagi PNS dan Surat Tanda Bukti Penerima Pensiun (STBPP) bagi Penerima Pensiun.
  4. Fotokopi Surat Nikah, Akte Kelahiran Anak/Keterangan Lahir, Surat Keputusan Pengadilan Negeri untuk Anak Angkat.
  5. Surat Keterangan dari Sekolah/ Perguruan Tinggi (bagi anak berusia lebih dari 21 tahun sampai dengan 25 tahun).
  6. Asli / fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).
  7. Surat Pernyataan/Keterangan Melaksanakan Tugas perorangan (SPMT) bagi Pegawai Tidak Tetap (PTT).
Sumber : http://www.jamsosindonesia.com/cetak/print_artikel/75

| edit post
Diposkan oleh puskesmas Cirimekar Senin, 15 Oktober 2012

UPT PUSKESMAS KECAMATAN CIBINONG 

Kecamatan Cibinong berada di pusat ibu kota Kabupaten Bogor dengan kondisi geografis sebagian besar terdiri dari dataran rendah dengan luas wilayah 4.243,023 Ha yang terbagi menjadi 12 Kelurahan, 138 Rw dan 756 RT dimana karakteristik penduduknya memiliki tingkat mobilisasi yang tinggi. Secara geografis Kecamatan Cibinong berada pada ketinggian 125 M diatas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 217,1 mm dan suhu udara berkisar antara 22,14o Celcius sampai dengan 31,1o Celcius. Disebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Cimanggis, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Citeureup, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja sedangkan disebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bojong Gede – Depok. Oleh karena letaknya yang berada di Ibu Kota Kabupaten maka hal ini melahirkan karakteristik dan permasalahan tersendiri baik dalam aspek ekonomi, sosial budaya, politik, kemasyarakatan, kondisi fisik dan wilayah serta pemerintahan dan pembangunan dibanding dengan kecamatan lainnya. Wilayah Kerja UPT Puskesmas Kecamatan Cibinong terbagi menjadi 4 wilayah binaan yaitu wilayah Unit Pelaksana Fungsional (UPF) Cirimekar, UPF Pabuaran Indah, UPF Cibinong dan UPF Karadenan. Masing-masing UPF membawahi 3 Kelurahan Binaan yaitu : UPF Cirimekar membina Kelurahan Cirimekar, Ciriung dan Cibinong, UPF Pabuaran Indah membina Kelurahan Pabuaran, Harapan Jaya dan Pondok Rajeg, UPF Cibinong membina Kelurahan Pakansari, Tengah dan Nanggewer Mekar serta UPF Karadenan membina Kelurahan Karadenan, Sukahati dan Nanggewer.

| edit post

PKPR PUSKESMAS CIRIMEKAR

Diposkan oleh puskesmas Cirimekar Sabtu, 13 Oktober 2012


PKPR

| edit post

VISI CIBINONG

Diposkan oleh puskesmas Cirimekar


V I S I
Mewujudkan Masyarakat Kecamatan Cibinong 
mandiri untuk hidup sehat 

MISI
  1. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat melalui kegiatan Kelurahan Siaga.
  2. Meningkatkan kemitraan dengan institusi lain dalam peningkatan kesehatan masyarakat .
  3. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.
STRATEGI
  1. Pendekatan kepada para pelaku pembangunan agar dalam melaksanakan pembangunan selalu mempertimbangkan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkannya.
  2. Meningkatkan Kerjasama Lintas Program dan Lintas Sektor yang terkait.
  3. Menyelenggarakan program upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui kegiatan pembinaan dan pemeliharan kesehatan masyarakat meliputi promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga termasuk KB dan pengobatan dasar serta upaya kesehatan masyarakat lainnya sesuai kebutuhan.
  4. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan petugas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu kepada masyarakat.
  5. Berupaya melengkapi dan meningkatkan sarana prasarana pelayanan melalui perencanaan yang mantap dan mengusulkannya ke kabupaten.
  6. Berupaya menyelenggarakan pelayanan rawat jalan yang bermutu, merata dan terjangkau melalui pelayanan rawat jalan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.

| edit post
Diposkan oleh puskesmas Cirimekar Selasa, 07 Februari 2012

DEFINISI PUSKESMAS

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional strata pertama dibidang kesehatan yang mempunyai wilayah kerja tertentu, mempunyai wewnang dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pembangunan di bidang kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas merupakan institusi /lembaga kesehatan tingkat pertama yang langsung terlibat dengan masyarakat di wilayah kerjanya  guna menyelenggarakan pembangunan kesehatan melalui  peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan.Bila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmasmaka tanggung jawab dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah. Masing-masing Puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung pada Dinkes Kab/Kota. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografi dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas.

Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30.000. penduduk. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu ditunjang dengan unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yaitu Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.

Pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas adalah pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan pengobatan (kuratif), upaya pencegahan (preventif), peningkatan kesehatan (promotif) dan pemullihan kesehatan (rehabilitatif) yang ditujukan kepada semua penduduk di wilayah kerjanya.

Fungsi Puskesmas.
1. Sebagai Pusat penggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
  • Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan berwawasan kesehatan
  • Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya
  • Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan dan pemulihan
      2. Pusat Pemberdayaan  Masyarakat
      Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat :
      • Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat
      •  Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan
      •  Ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan
      3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama
      Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan
      • Pelayanan kesehatan perorangan primer
      •  Pelayanan kesehatan masyarakat primer


      Tujuan Puskesmas
       
      Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran , kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
       

      Tugas Puskesmas
       
      Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis  (UPT) kesehatan kabupaten / kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu , dan berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Puskesmas melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan.


      Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok. Jenis pelayan kesehatan disesuaikan dengan kemampuan puskesmas, namun terdapat upaya kesehatan wajib yang harus dilaksanakan oleh puskesmas ditambah dengan upaya kesehatan pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada serta kemampuan puskesmas. 


      Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 tentang kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat merupakan pedoman bagi puskesmas dalam melaksanakan upaya kesehatan dimana upaya puskesmas dibagi menjadi upaya wajib dan upaya penunjang.

      Upaya wajib merupakan upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta mempunyai daya ungkit yang tinggi dalam peningkatan derajat kesehatan. Upaya kesehatan wajib meliputi : 

      1. Upaya Promosi Kesehatan, 
      2. Upaya KIA dan KB, 
      3. Upaya perbaikan Gizi masyarakat, 
      4. Upaya Penanggulangan Penyakit, 
      5. Upaya Kesehatan Lingkungan dan 
      6. Upaya Pengobatan dan Kegawatdaruratan

      Sedangkan upaya penunjang merupakan upaya kesehatan yang dikembangkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi sumber daya puskesmas yang meliputi : 
      1. Upaya Kesehatan Sekolah, 
      2. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat, 
      3. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut, 
      4. Upaya Kesehatan Indra, 
      5. Upaya Kesehatan Jiwa, 
      6. Upaya Kesehatan Usia Lanjut, 
      7. Upaya Kesehatan Kerja dan 
      8. Upaya KesehatanOlah Raga
      9. Upaya Pembinaan Pengobatan Trasdisional, alternatif dan komplementer




      Kegiatan Pokok Puskesmas

      Sesuai dengan upaya kesehatan diatas (menurut KepMenKes No. 128/Menkes/SK/II/2004), maka kegiatan pokok yang dapat dilaksanakan oleh sebuah Puskesmas akan berbeda-beda pula. Namun demikian kegiatan pokok Puskesmas yang seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut :
      1. Kesejahteraan Ibu dan Anak.
      2. Keluarga Berencana.
      3. Usaha Peningkatan Gizi.
      4. Kesehatan Lingkungan.
      5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.
      6. Pengobatan Termasuk Pelayanan Darurat Karena Kecelakaan.
      7. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.
      8. Kesehatan Sekolah.
      9. Kesehatan Olahraga.
      10. Perawatan Kesehatan Masyarakat.
      11. Kesehatan Kerja.
      12. Kesehatan Gigi dan Mulut.
      13. Kesehatan Jiwa.
      14. Kesehatan Mata.
      15. Laboratorium Sederhana.
      16. Pencatatan dan Pelaporan Dalam Rangka Sistem Informasi Kesehatan.
      17. Kesehatan Lanjut Usia.
      18. Pembinaan Pengobatan Tradisional.

       Dalam keadaan tertentu, masyarakat membutuhkan pula pelayanan rawat inap. Untuk ini di puskesmas dapat dikembangkan pelayanan rawat inap tersebut, yang dalam pelaksanaannya harus memperhatikan berbagai persyaratan tenaga, sarana dan prasarana sesuai standar yang telah ditetapkan.
      Lebih lanjut, di beberapa daerah tertentu telah muncul pula kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan medik spesialistik. Dalam keadaan ini, apabila ada kemampuan, di puskesmas dapat dikembangkan pelayanan medik spesialistik tersebut, baik dalam bentuk rawat jalan maupun rawat inap. Keberadaan pelayanan medik spesialistik di puskesmas hanya dalam rangka mendekatkan pelayanan rujukan kepada masyarakat yang membutuhkan. Status dokter dan atau tenaga spesialis yang bekerja di puskesmas dapat sebagai tenaga konsulen atau tenaga tetap fungsional puskesmas yang diatur oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
      Perlu diingat meskipun puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik dan memiliki tenaga medis spesialis, kedudukan dan fungsi puskesmas tetap sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayaan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

      Kedudukan
      Kedudukan Puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya dengan Sistem Kesehatan Nasional, Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota dan Sistem Pemerintah Daerah:
      1. Sistem Kesehatan Nasional
      Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Nasional adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
      2. Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota
      Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten/kota di wilayah kerjanya.
      3. Sistem Pemerintah Daerah
      Kedudukan puskesmas dalam Sistem Pemerintah Daerah adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang merupakan unit struktural Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan.
      4. Antar Sarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama
      Di wilayah kerja puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta seperti praktek dokter, praktek dokter gigi, praktek bidan, poliklinik dan balai kesehatan masyarakat. Kedudukan puskesmas di antara berbagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama ini adalah sebagai mitra.
      Di wilayah kerja puskesmas terdapat pula berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis dan bersumber daya masyarakat seperti posyandu, polindes, pos obat desa dan pos UKK. Kedudukan puskesmas di antara berbagai sarana pelayanan kesehatan berbasis dan bersumberdaya masyarakat adalah sebagai pembina.

      Organisasi
      1.  Struktur Organisasi
      Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas masing-masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan Peraturan Daerah.
      Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai berikut:
      1.  Kepala Puskesmas
      2.  Unit Tata Usaha yang bertanggungjawab membantu Kepala Puskesmas dalam pengelolaan:
         . Data dan informasi
         . Perencanaan dan penilaian
         . Keuangan
         . Umum dan pengawasan
      3. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas
         . Upaya kesehatn masyarakat, termasuk pembinaan terhadap UKBM;
         . Upaya kesehatan perorangan;
      4. Jaringan pelayanan puskesmas
         . Unit puskesmas pembantu;
         . Unit puskesmas keliling;
         . Unit bidan di desa/komunitas;

      Kriteria Personalia
      Kriteria personalia yang mengisi struktur organisasi puskesmas disesuaikan dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing unit puskesmas. Khusus untuk Kepala Puskesmas kriteria tersebut dipersyaratkan harus seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat.
      Kepala Puskesmas adalah penanggungjawab pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan. Sesuai dengan tanggungjawab tersebut dan besarnya peran Kepala Puskesmas dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan, maka jabatan Kepala Puskesmas setingkat dengan eselon III-B.
      Dalam keadaan tidak tersedia tenaga yang memenuhi syarat untuk menjabat jabatan eselon III-B, ditunjuk pejabat sementara yang sesuai dengan kriteria Kepala Puskesmas yakni seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup bidang kesehatan masyarakat, dengan kewenangan yang setara dengan pejabat tetap.

      Tata Kerja
      1.    Dengan Kantor Kecamatan
      Dalam melaksanakan fungsinya, puskesmas berkoordinasi dengan kantor kecamatan melalui pertemuan berkala yang diselenggarakan di tingkat kecamatan. Koordinasi tersebut mencakup perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta penilaian. Dalam hal pelaksanaan fungsi penggalian sumber daya masyarakat oleh puskesmas, koordinasi dengan kantor kecamatan mencakup pula kegiatan fasilitasi.
      2.    Dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
      Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dengan demikian secara teknis dan administratif, puskesmas bertanggungjawab kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Sebaliknya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggungjawab membina serta memberikan bantuan administratif dan teknis kepada puskesmas.
      3.    Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta, puskesmas menjalin kerjasama termasuk penyelenggaraan rujukan dan memantau kegiatan yang diselenggarakan. Sedangkan sebagai pembina upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat, puskesmas melaksanakan bimbingan teknis, pemberdayaan dan rujukan sesuai kebutuhan.
      4.    Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan
      Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, puskesmas menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pelayanan kesehatan rujukan. Untuk upaya kesehatan perorangan, jalinan kerjasama tersebut diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan perorangan seperti rumah sakit (kabupaten/kota) dan berbagai balai kesehatan masyarakat (balai pengobatan penyakit paru-paru, balai kesehatan mata masyarakat, balai kesehatan kerja masyarakat, balai kesehatan olahraga masyarakat, balai kesehatan jiwa masyarakat, balai kesehatan indra masyarakat). Sedangkan untuk upaya kesehatan masyarakat, jalinan kerjasama diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat rujukan, seperti Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan, Balai Laboratorium Kesehatan serta berbagai balai kesehatan masyarakat. Kerjasama tersebut diselenggarakan melalui penerapan konsep rujukan yang menyeluruh dalam koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
      5.    Dengan Lintas Sektor
      Tanggungjawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk mendapat hasil yang optimal, penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada di tingkat kecamatan. Diharapkan di satu pihak, penyelenggaraan pembangunan kesehatan di kecamatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai sektor terkait, sedangkan di pihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh sektor lain di tingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan.
      6.    Dengan Masyarakat
      Sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya, puskesmas memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan. Dukungan aktif tersebut diwujudkan melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP) yang menghimpun berbagai potensi masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, orgasnisasi kemasyarakatan, serta dunia usaha.
      BPP tersebut berperan sebagai mitra puskesmas dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan.

      Badan Penyantun Puskesmas (BPP)
      Pengertian:
      Suatu organisasi yang menghimpun tokoh-tokoh masyarakat peduli kesehatan yang berperan sebagai mitra kerja puskesmas dalam menyelenggarakan upaya pembangunan kesehatan di wilayah kerja puskesmas.
      Fungsi:
      1.    Melayani pemenuhan kebutuhan penyelenggaraan pembangunan kesehatan oleh puskesmas (to serve)
      2.    Memperjuangkan kepentingan kesehatan dan keberhasilan pembangunan kesehatan oleh puskesmas (to advocate)
      3.    Melaksanakan tinjauan kritis dan memberikan masukan tentang kinerja puskesmas (to watch)

      AZAS PENYELENGGARAAN
      Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus menerapkan azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. Azas penyelenggaraan puskesmas tersebut dikembangkan dari ketiga fungsi puskesmas. Dasar pemikirannya adalah pentingnya menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi puskesmas dalam menyelenggarakan setiap upaya puskesmas, baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Azas penyelenggaraan puskesmas yang dimaksud adalah:
      1.    Azas pertanggungjawaban wilayah
      Azas penyelenggaraan puskesmas yang pertama adalah pertanggungjawaban wilayah. Dalam arti puskesmas  bertanggungjawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya. Untuk ini puskesmas harus melaksanakan berbagai kegiatan, antara lain sebagai berikut:
      • Menggerakkan pembangunan berbagai sektor tingkat kecamatan, sehingga berwawasan kesehatan
      • Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya
      • Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya
      • Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama (primer) secara merata dan terjangkau di wilayah kerjanya ( melalui : Pustu, Pusling, BDD dan berbagai usaha diluar gedung lainnya -> outreach activity)
      Diselenggarakannya upaya kesehatan strata pertama oleh puskesmas pembantu, puskesmas keliling, bidan di desa serta berbagai upaya kesehatan di luar gedung puskesmas lainnya (outreach activities) pada dasarnya merupakan realisasi dari pelaksanaan azas pertanggungjawaban wilayah.
      2.    Azas pemberdayaan masyarakat
      Azas penyelenggaraan puskesmas yang kedua adalah pemberdayaan masyarakat. Dalam arti puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya puskesmas. Untuk ini, berbagai potensi masyarakat perlu dihimpun melalui pembentukkan Badan Penyantun Puskesmas (BPP). Beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan oleh puskesmas dalam rangka pemberdayaan masyarakat antara lain:
      • Upaya kesehatan ibu dan anak: posyandu, polindes, Bina Keluarga Balita (BKB)
      • Upaya pengobatan: posyandu, Pos Obat Desa (POD)
      • Upaya perbaikan gizi: posyandu, panti pemulihan gizi, Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
      • Upaya kesehatan sekolah: dokter kecil, penyertaan guru dan orang tua/wali murid, Saka Bakti  Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren)
      • Upaya kesehatan lingkungan: Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan (PDKL)
      • Upaya kesehatan usia lanjut: posyandu usila, panti wreda
      • Upaya kesehatan kerja: Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
      • Upaya kesehatan jiwa: posyandu, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM)
      • Upaya pembinaan pengobatan tradisional: Taman Obat Keluarga (TOGA), Pembinaan Pengobat Tradisional (Battra)
      • Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan (inovatif): dana sehat, Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), mobilisasi dana keagamaan
      3.    Azas keterpaduan
      Azas penyelenggaraan puksesmas yang ketiga adalah keterpaduan. Untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya serta diperolehnya hasil yang optimal, penyelenggaraan setiap upaya puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu, jika mungkin sejak dari tahap perencanaan. Ada dua macam keterpaduan yang perlu diperhatikan, yakni:
      a. Keterpaduan lintas program
      Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggungjawab puskesmas. Contoh keterpaduan lintas program antara lain:
      • Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS): keterpaduan KIA dengan P2M, gizi, promosi kesehatan, pengobatan
      • Upaya Kesehatan Sekolah (UKS): keterpaduan kesehatan lingkungan dengan promosi kesehatan, pengobatan, kesehatan gigi, kesehatan reproduksi remaja dan kesehatan jiwa
      • Puskesmas keliling: keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB, gizi, promosi kesehatan, kesehatan gigi
      • Posyandu: keterpaduan KIA dengan KB, gizi P2M, kesehatan jiwa, promosi kesehatan
      b. Keterpaduan lintas sektor
      Keterpaduan lintas sektor adalah upaya memadukan penyelenggaraan upaya puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) dengan berbagai program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha.
      Contoh keterpaduan lintas sektor antara lain:
      • Upaya Kesehatan Sekolah: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, pendidikan, agama
      • Upaya promosi kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, pendidikan, agama, pertanian
      • Upaya kesehatan ibu dan anak: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, PKK, PLKB
      • Upaya perbaikan gizi: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, pertanian, pendidikan, agama, koperasi, dunia usaha, PKK, PLKB
      • Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja, koperasi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan
      • Upaya kesehatan kerja: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja, dunia usaha.
      4.    Azas rujukan
      Azas penyelenggaraan puskesmas yang keempat adalah rujukan. Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh puskesmas terbatas.
      Padahal puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai permasalahan kesehatannya. Untuk membantu puskesmas menyelesaikan berbagai masalah kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) harus ditopang oleh azas rujukan.
      Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horisontal dalam arti antar sarana pelayanan kesehatan yang sama.
      Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas ada dua macam rujukan yang dikenal, yakni:
      a. Rujukan upaya kesehatan perorangan
      Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik horisontal maupun vertikal). Sebaliknya pasien paska rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke puskesmas.
      Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam:
      1). Rujukan kasus keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik (biasanya operasi) dan lain-lain.
      2). Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.
      3). Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih kompeten untuk melakukan bimbingan kepada tenaga puskesmas dan ataupun menyelenggarakan pelayanan medik di puskesmas.
      b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat
      Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana. Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
      Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam:
      1). Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai dan bahan makanan.
      2). Rujukan tenaga antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyelidikan kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan karena bencana alam.
      3). Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya masalah kesehatan masyarakat dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (antara lain Upaya Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.

      PEMBIAYAAN
      Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang menjadi tanggungjawab puskesmas, perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup. Pada saat ini ada beberapa sumber pembiayaan puskesmas, yakni:
      1.  Pemerintah
      Sesuai dengan azas desentralisasi, sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah terutama adalah pemerintah kabupaten/kota. Di samping itu puskesmas masih menerima dana yang berasal dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Dana yang disediakan oleh pemerintah dibedakan atas dua macam, yakni:
      a. Dana anggaran pembangunan yang mencakup dana pembangunan gedung, pengadaan peralatan serta pengadaan obat.
      b. Dana anggaran rutin yang mencakup gaji karyawan, pemeliharaan gedung dan peralatan, pembelian barang habis pakai serta biaya operasional.
      Setiap tahun kedua anggaran tersebut disusun oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk diajukan dalam Daftar Usulan Kegiatan ke pemerintah kabupaten/kota untuk seterusnya dibahas bersana DPRD kabupaten/kota. Puskesmas diberikan kesempatan mengajukan kebutuhan untuk kedua anggaran tersebut melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
      Anggaran yang telah disetujui yang tercantum dalam dokumen keuangan diturunkan secara bertahap ke puskesmas melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk beberapa mata anggaran tertentu, misalnya pengadaan obat dan pembangunan gedung serta pengadaan alat, anggaran tersebut dikelola langsung olen Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau oleh pemerintah kabupaten/kota.
      Penanggungjawab penggunaan anggaran yang diterima puskesmas adalah kepala puskesmas, sedangkan administrasi keuangan dilakukan oleh pemegang keuangan puskesmas yakni seorang staf yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atas usulan kepala puskesmas. Penggunaan dana sesuai dengan usulan kegiatan yang telah disetujui dengan memperhatikan berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
      2.  Pendapatan puskesmas
      Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masyarakat dikenakan kewajiban membiayai upaya kesehatan perorangan yang dimanfaatkannya, yang besarnya ditentukan oleh pemerintah daerah masing-masing (retribusi). Pada saat ini ada beberapa kebijakan yang terkait dengan pemanfaatan dana yang diperoleh dari penyelenggraan upaya kesehatan perorangan ini, yakni:
      a. Seluruhnya disetor ke Kas Daerah
      Untuk ini secara berkala puskesmas menyetor langsung seluruh dana retribusi yang diterima ke kas daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
      b. Sebagian dimanfaatkan secara langsung oleh puskesmas. Beberapa daerah tertentu membenarkan puskesmas menggunakan sebagian dari dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan, yang lazimnya berkisar antara 25 – 50% dari total dana retribusi yang diterima. Penggunaan dana hanya dibenarkan untuk membiayai kegiatan operasional puskesmas. Penggunaan dana tersebut secara berkala dipertanggungjawabkan oleh puskesmas ke pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
      c. Seluruhnya dimanfaatkan secara langsung oleh puskesmas
      Beberapa daerah tertentu lainnya membenarkan puskesmas menggunakan seluruh dana yang diperolehnya dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan untuk membiayai kegiatan operasional puskesmas. Dahulu puskesmas yang menerapkan model pemanfaatan dana seperti ini disebut puskesmas swadana. Pada saat ini sesuai dengan kebijakan dasar puskesmas yang juga harus menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat yang dananya ditanggung oleh pemerintah, diubah menjadi puskesmas swakelola. Dengan perkataan lain puskesmas tidak mungkin sepenuhnya menjadi swadana. Pemerintah tetap berkewajiban menyediakan dana yakni untuk membiayai upaya kesehatan masyarakat yang memang menjadi tanggungjawab pemerintah.
      3.  Sumber lain
      Pada saat ini puskesmas juga menerima dana dari beberapa sumber lain seperti:
      a.  PT ASKES yang peruntukkannya sebagai imbal jasa pelayanan yang diberikan kepada para peserta ASKES. Dana tersebut dibagikan kepada para pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
      b.  PT (Persero) Jamsostek yang peruntukannya juga sebagai imbal jasa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta Jamsostek. Dana tersebut juga dibagikan kepada para pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
      c.  JPSBK/PKPSBBM : Untuk membantu masyarakat miskin, pemerintah mengeluarkan dana secara langsung ke puskesmas. Pengelolaan dana ini mengacu pada pedoman yang telah ditetapkan.
      Apabila sistem Jaminan Kesehatan Nasional telah berlaku, akan terjadi perubahan pada sistem pembiayaan puskesmas. Sesuai dengan konsep yang telah disusun, direncanakan pada masa yang akan datang pemerintah hanya bertanggungjawab untuk membiayai upaya kesehatan masyarakat, sedangkan untuk upaya kesehatan perorangan dibiayai melalui sistem Jaminan Kesehatan Nasional, kecuali untuk penduduk miskin yang tetap ditanggung oleh pemerintah dalam bentuk pembayaran premi. Dalam keadaan seperti ini, apabila puskesmas tetap diberikan kesempatan menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan, maka puskesmas akan menerima pembayaran dalam bentuk kapitasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional. Untuk itu puskesmas harus dapat mengelola dana kapitasi tersebut sebaik-baiknya, sehingga di satu pihak dapat memenuhi kebutuhan peserta Jaminan Kesehatan Nasional dan di pihak lain tetap memberikan keuntungan bagi puskesmas. Tetapi apabila puskesmas hanya bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas hanya akan menerima dan mengelola dana yang berasal dari pemerintah.

      | edit post
      Pelatihan Dokter Kecil Tahun 2012
      program kesehatan peduli remaja adalah ... lebih lengkapnyaklik disini
      Wanita ? Bagaimana kiprahnya di bidang kesehatan.... klik disini
      Jilbab bukan hanya penutup tubuh wanita, tetapi lebih jauh...Klik disini